Selasa, 06 Oktober 2020

 

1.   BANGKU-BANGKU TUA

2.   PIKUN

3.   GAMANG

4.   LUKISAN USANG

5.   KEMARAU

6.   LOA MEI

7.   BENTENG NEGERI

8.   DOA MALAMKU

9.   BERITA KEMATIAN

10.               MENYINGKAP KEMATIAN

JIKA AKU MATI

12.               SAJAK PARA PELAYAT

13.               JANJI

14.               LIMIT

15.               MENYESALKU

 

 

 

1.   BANGKU-BANGKU TUA

 

Karya : Hamdani

KTA : 0263/PERRUAS-SASTRA/2019

 

Ketika bangku-bangku tua

mulai bicara pada meja yang

menggumam seribu bah'sa

Ternyata suaranya lebih lengking

memecahkan keheningan ruang

yang ditinggal penghuninya

 

Ketika bangku-bangku tua

mulai bicara pada meja yang

menggumam seribu bah'sa

Jeritnya merobohkan dinding-dinding

tirani di negeri pendosa

Negeri yang hilang rasa

hilang periksa

 

Ah, kan kusalahkan pada siapa

jika bangku-bangku tua bicara sejujurnya

Tiada yang dapat menutup kesaksiannya

Dia merekam bicara tentangmu

yang beraroma pendusta

Hingga tercabik dinding-dinding kedap suara

Menyesak menembus tulang-tulang beton

yang menyangga padanya.

 

Kan kusalahkan pada siapa nasib malang

yang menimpa negeriku?

Tipu daya meraja lela

menelan gunung menelan lautan

menelan tanah, air jadi bencana

 

Wahai, bangku-bangku tua

Katakan pada sahabatmu

yang tak lagi mau bicara

Mengapa ayah mereka

menenggakkan ramuan akar tuba

pada anak-anak tak berdosa

Membunuh jiwa-jiwa kering

kehilangan asa?

 

Mengapa kau diam?

Membisu seribu bah'sa?

 

Ah, sudahlah

Untuk apa kusalahkan pada nasib

malang yang menimpamu?

Kau hanya bilah-bilah kering yang mati rasa

Yang dibuang bila tak berguna lagi

Gaungmu menggugurkan dedaunan

tapi tak menggugurkan kesombongan

Bicaramu meruntuhkan gunung ganang

Tapi tak meruntuhkan keangkuhan

 

Sudahlah, untuk apa aku bicara padamu?

Yang takkan pernah mengerti

dalam dunia yang juga tak pernah perduli.

 

 

2.   PIKUN

 

Karya : Hamdani

0263/PERRUAS-SASTRA/2019

 

Si Tua bangka mengeja pada kata tiada makna

ditutur patah sepatah haram,

dilulur decak keliling pinggang,

digiur teguk sekecup tuba,

dienyam pahit si malakama,

diseok lenggang sepatah arang,

diliut lekang mata bertenggang,

diguyur angin sebisa duri,

dikota kata semati angan,

diumbuk rasa diri binasa,

diurut lurut kering kerontang,

diputus asa bergadai nyawa,

Si  Tua bangka mengeja pada lupa.

Kata tiada makna.

 

 

 

 

3.    GAMANG

 

Karya : Hamdani

0263/PERRUAS-SASTRA/2019

 

Jejak luka bernanah tergores ilalang

Pedih perih mencabik – cabik

Sekalipun halilintar menggelepar

Menghenyak benak

Semakin ku tak perduli.

 

Angin yang mendesau tak semiris

cumbu badai yang pernah berlalu

di belantara rindu

 

Ah,

Tak lagi kau dengar semilir angin

menghembus desahnya pada rumpun

bambu di lereng keharuan

Titik-titik hujan telah jatuh satu persatu

Di alur sungai kenistaan itu

 

Saat ini,

Purnama tak lagi hadir dalam warna sejati

Pucat pasi di balik awan yang bercentang

Putih hitam abu-abu

 

Aku yang terseok dalam kelip binarmu

Perlahan tenggelam dan penuh lebam

Terhunus kata yang berperi

 

Sebab

Libramu telah memecahkan kendi kepolosanku

Hilang manja, hilangkan harapan dan kebanggaanku

Diamku, memberanguskan rindumu padaku

Aku.., lebur jadi debu.

 

4.   LUKISAN USANG

 

Karya : Hamdani

KTA : 0263/PERRUAS-SASTRA/2019

 

Kucoretkan segala asa

pada kanvas yang menggelantung

di dinding kamar ini

Mau hitam, putih, atau jingga

Serahlah padaku.

 

Jangan tanya ini itu

Sekalipun laut yang kutoreh berwarna hitam

Atau langit jingga yang menyala

Apa kau perduli?

 

Asaku kian terbelenggu warna kematian

Hingga bingkainya sekalipun

tak mengerti apa mauku

Lihatlah luka yang menyesak

di liang-liang hampa,

 

menyusup hingga tulang belulang

Perihnya sungguh tak terperi

 

Lalu kutuang ilusi

dalam cawan berisi darah

yang bersatu dalam raguku

 

Hasratku terlanjur mengering

Mengental dalam warna yang kalut

Sudahlah, jangan kau tanya lagi

Ada waktu pastiku kembali pada-Nya.

 

 

5.   KEMARAU

 

Hamdani

0263/PERRUAS-SASTRA/2019

 

Kulihat awan becermin di muka laut

dalam warna yang merah saga

Dia menyunggingkan senyum

pada daun yang kering kehausan.

 

Lalu mencibirlah tanah gersang

pada hujan yang turun gerimis

Dia berkata, sekejap saja tawamu itu?

 

Takkan mampu menawar lukaku

Kabut yang mengental pada

dinding-dinding langit,

telah memerangkap

jiwaku dan jiwamu.

 

kita terlalu egois kala merayu

pada musim yang takkan pernah berubah

hingga menghentikan langkah kita berjalan ke hadapan.

Menyuruk pada kelam yang membutakan.

 

Kapankah turun hujan kedamaian yang sejati itu?

Yang mengguyur dalam sukmaku yang lama hampa.

Sementara kerinduanku semakin terampas oleh musim

Kabutnya menebal menyesak dalam nafasku.

 

Tuhan, kirimkan aku berita-mu

Pada horizon yang membentang di segara kasih-mu

Agar kutahu kemarau ini pasti berlalu.

 

 

 

6.     LOA MEI

(sajak untuk sebuah seremonial)

 

Loa mei,

Gadis kecil yang tertatih

Di deru dan debu jalanan negeriku

Terdiam dalam asa menatap langit

Yang menyengat kulit

 

Tampaknya tah kapan kan turun hujan

Selain gerah yang masih menyelimuti

Dinding dan sudut negeriku yang bertuan

Hatinya masih hampa dan bibir kelu mau bicara

 

Loa mei

Kau gadis kecil berkulit putih

Yang turun ke bumi

Dalam pelukan cinta yang membara

Kini merempat di jalanan

Terbuang, terlantar, terabaikan

 

Seribu mata tak peduli memandangmu

Seribu mata hanya berkisah tentangmu

Seribu mata hanya diam dan membisu

Dan seribu mata juga bicara cinta padamu.

 

Loa mei

Ada kabar burung apakah kau dengar?

Ada kabar angin apakah kau dengar?

Ada kabar online tentangmu juga,

Apakah kau dengar?

 

Oh, maaf.

Aku lupa kau tak punya apa-apa

Aku lupa kau bukan siapa-siapa

Aku lupa, tentang duniamu yang di sana

 

Loa mei,

Berjalanlah engkau hingga ke ujung duniamu

Walau lelah pantang sekali engkau menyerah

Walaupun resah jangan pernah engkau gelisah

Walaupun perih jangan pula engkau bersedih

Teruslah maju dan engkau harus tetap melangkah

 

Loa mei..,maafkan aku.

Kami yang duduk dalam gegap gempita

Bersorak sorai dalam yel-yel keabadian

Sedang di luar sana kau berteriak dalam kepedihan

Melambung menguap dalam terik dan kemarau

Hingga kecil suaramu tak kedengaran lagi

Sebentar, kami harus menyelesaikan sedikit lagi

Bicara tentang kemanusiaan

Hingga malam larut nanti

Pasti kami kan lupa engkau masih merempat di tengah jalan.

 

Hamdani/ karimun, 2 mei 2020

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7.      BENTENG NEGERI

Salah satu tulisanku yang masuk dalam buku Antologi Puisi berjudul "GURU" Sebuah pencapaian REKOR MURI INDONESIA 2018 untuk kategori Buku "Penulis Puisi Terbanyak" yang diluncurkan dalam acara GERAKAN AKBAR 1000 GURU ASEAN MENULIS PUISI.


BENTENG NEGERI


Kepadamu Tuan,

Kami adalah pucuk-pucuk bakau

yang berjajar di ribuan pulau

Hijaunya meneroka sampai ke ujung tanjung

menyeruak sampai ke dalam teluk

 

Kami adalah pucuk-pucuk bakau

yang memagar tanah daratan

Menahan hempasan ombak,

menahan terjangan badai

 

Walau gugur, kami berpantang mati

 

Tapi, lambaian tangan kami tak pernah kau pahami

Semilir angin adalah salam kami,

yang tak pernah kau perduli

Riuh ombak adalah rintihan kami,

yang tak pernah kau mengerti


Kepadamu Tuan,

Mengapa kikis pantai Nusamu?

Negeri yang kini hilang gempitanya

Terkubur semangat kami dalam serakah jiwamu

Keangkuhanmu yang menikam jantung kami

Sangat perih dari dijajah di dunia nyata


Oh.., Tuan

Bangunlah dari lenamu yang panjang

Kibarkan semangat jiwamu di tanah persada

Jangan lagi surut langkah mudamu

Bangkit bersatu, membela bumi Pertiwi.

 

HAMDANI, 24 September 2018

 

 

 

 

 

8.   Doa Malamku

 

Waktu kubenamkan wajah

Diceceran air mata

Menyeruak dalam keinsyafan

Jemari menangkap seribu noda

bibir membiru tangan tegang kaku

Kumohon seribu ampun dari-Mu.

 

Waktu menjerit  nubariku di sudut malam

Menangisku dalam iman.

Semujudku tiada henti

Mencari keampunan-Mu.

 

Tuhan, kuraih kasih sayang-Mu.

Dalam setiap doa malamku

 

 

9.    Berita Kematian

 

Telah luruh dedaunan

layu kering ditiup angin

tergeletak dalam tanah gersang

terbalut debu

kusam menghitam.

 

Terhempas bebatuan kerikil tajam

Satu persatu berderai jadi butiran hampa.

 

Jangan lagi kau perduli

Walaupun nadimu tak lagi berdetak.

 

Tahukah engkau?

Daun yang luruh itu...

Telah hanyut tergerus kebencianmu

Hingga jejaknya pun

Tak lagi dapat kau temui.

Dia kini telah mati.

 

 Menyingkap Kematian

 

Maafkan, aku Canduku

 

Canduku, sang Bayi kecil yang merengek

Tiap malam hendak menetek pada puting

kosong melompong.

 

Ibumu terlelap menganga

dalam keletihan dan diam tak berdaya

lelah merintangmu pada jalan pagi dan petang.

 

Ayahmu kini tak lagi membelikan susu bubuk

atas beratnya kehidupan ini

Walau  kau kehausan dalam tangisan

menangis dalam lolongan panjang

Lirih suaramu merintih

 

Nak, kusuguhkan seteguk tuba

Tuk menghentikan tangisanmu?

 

Apa yang hendak dikata?

Kau yang menebus duka dan dosa dalam candu kami

 

Sampai bertemu Nak, kita berhitung di hari pembalasan.

 

 

 

 JIKA AKU MATI

 

Jika aku mati

tabuhkan beduk tiga kali di dalam negeri

Jangan ditangisi

 

‘Daun gugur tak pernah membenci angin’

 

Jika aku mati

Semayamkan jasadku dalam sekejap 

Jangan ditangisi

 

karena rindu sedang menyapa

 

Jika aku mati

Usap keningku dengan lembut jemarimu 

Jangan ditangisi

 

Titik-titik air melati akan menggugurkan rindumu

 

Jika aku mati

baluri aku dengan secercah kasihmu

Jangan ditangisi

 

Esok pagi kan kau lihat senyumku menyapamu

 

Jika aku mati

antarkan ragaku dengan pundakmu

Jangan ditangisi

 

Teguhkan jiwamu mengusung kepergianku

 

Karena duniamu bukan lagi duniaku.

 

                        uu.hamita, (19 Juni 2018)

 

 

    SAJAK PARA PELAYAT

 

Jika aku mati

tabuhkan beduk tiga kali di dalam negeri

Jangan ditangisi

 

‘Daun gugur tak pernah membenci angin’

 

Jika aku mati

Semayamkan jasadku dalam sekejap 

Jangan ditangisi

 

karena rindu sedang menyapa

 

Jika aku mati

Usap keningku dengan lembut jemarimu 

Jangan ditangisi

 

Titik-titik air melati akan menggugurkan rindumu

 

Jika aku mati

baluri aku dengan secercah kasihmu

Jangan ditangisi

 

Esok pagi kan kau lihat senyumku menyapamu

 

Jika aku mati

antarkan ragaku dengan pundakmu

Jangan ditangisi

 

Teguhkan jiwamu mengusung kepergianku

 

Karena duniamu bukan lagi duniaku.

 

 uu.hamita, (19 Juni 2018)

 

 

 

 

 

 

13. JANJI

 

Aku tak pernah merasa berjanji  pada langit

Tentang catatan hitam kumal di tangan ini

Ada noktah noda yang menempel 

pada dinding malam dan siangku

 

Tentang sumpah serapah yang melumat

daging yang membangkai jadi santapan

Tentang hasrat menggelora yang terpanggang

oleh nafsu birahi

Lalu mersik di pancang-pancang sulbi                 

 

Tentang waktu yang terbuang sia-sia

pada lorong-lorong senja yang menganga

 

Tentang harta yang bertumpuk dan mengeras

Jadi batu api yang membakar rohul jasadi

 

Tapi entah mengapa

Tanganku ringan berayun menggapai

lembah di antara dua jalan yang bersimpang?

 

Entah ku tak paham jika pendakian adalah keabadian

Liku dan temaram ternyata adalah jalan syurga

 

Mengapa melulu lembah hitam kelam

yang menuntun tangan-tangan ke neraka?

 

Sumpah demi sang Penguasa

yang menundukkan siang dan malam

Aku bukan pecundang.

 

uu.hamita, (14 Desember 2017)

 

 

 

 

 

 

 

14.  LIMIT

 

Tik.., tik.., tik..,

 

Desember setengah malam,

Bekas kepedulian orang-orang

menanti dia tiba.

Meninggalkan detik antara

yang takkan kembali.

 

Tik.., tik.., tik..,

 

Sebentar sesaat bertepuk tangan

dalam sorak sorai yang berderai

Mercon dan petasan menggagai rangut

Kerlap kerlip bagai gemintang

lalu cahyanya mati.

 

Entah apa yang ditunggu?

Entah apa yang dinanti?

Entah hidup entah mati?

 

Tik.., tik.., tik..,

 

Hanya detik detik yang jengah menunggu

Atau kau dan aku, pergi tak akan kembali lagi.

 

#catatanakhirtahun

Karimun, 31/12/2019

 

 

15. MENYESALKU

 

Menyesalku meminta

kerinduan pada yang fana.

Hingga menutup pandanganku

pada kebenaran cinta sejati dari-Nya. 

Memasang tembok yang teramat tinggi,

demi memisahkan rasa cinta-Nya padaku.

 

Aku, yang tolol tak memahami keabadian.

Terus berlari mengejar cinta buta dalam kepayahan.

Tertatih bagai seekor serigala yang terluka dan kecewa pada dunia. Termenung bagaikan pungguk merindukan bulan.

Terombang ambing di lautan bagaikan perahu yang patah kemudi.

 

Tuhan, dalam kepayahan

izinkan kuraih buih kasih-Mu

Hingga capai dermaga tempatku berpaut.

 

Tuhan, beri aku maaf

Hingga kikis salah dan dosaku pada-Mu.

 

Karimun, 01/10/2020

 

 

 

16. BERITA KEMATIAN

 

Telah luruh dedaunan

layu kering ditiup angin

tergeletak dalam tanah gersang

dan terbalut debu

 

Terhempas bebatuan kerikil tajam

Satu persatu berderai jadi butiran hampa.

 

Daun yang luruh,

Engkau hanyut dalam musim

yang silih berganti

Sampai hilang tak berjejak  

Kau pun tak pernah dikenang lagi

Selamanya engkau telah mati.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

           

Entri yang Diunggulkan

  1.    BANGKU-BANGKU TUA 2.    PIKUN 3.    GAMANG 4.    LUKISAN USANG 5.    KEMARAU 6.    LOA MEI 7.    BENTENG NEGERI 8.    ...