Cuplikan Novellet.
GELAPNYA JALAN SURAU KAMI
Kesadaranku
timbul tenggelam. Di rumahku sedang ada perhelatan kecil. Orang-orang
berdatangan ke rumahku tapi entah siapa yang mengundang mereka. Mereka duduk
dan berdiri sesukanya tanpa ada penyambutan. Tidak ada kursi-kursi di dalam
tenda agar mereka bisa menikmati perhelatan. Yang ada hanya wajah-wajah duka
dan penuh kecemasan. Sebagian mereka bahkan berpakaian serba hitam.
Dalam
kegelisahanku, aku lupa sesuatu. Di mana istriku? Di mana anak-anakku? Di mana
keluargaku semuanya? Aku mencari mereka. Kulewati kerumunan orang-orang yang berada
di sana tanpa sedikit pun ingin menyapa dan bertanya kepada mereka. Selain itu,
aku juga merasa risih pada orang-orang yang menjadi tamu tak diundang ini yang
terus berdatangan di rumahku.
Kudapati
istri dan anak-anakku sedang duduk bersimpuh saling berhadapan di lantai ruang
tamu rumahku. Mereka meratapi sesosok jasad mati yang terbaring di
tengah-tengah mereka. Kucoba mendekatinya, tubuh kurus berselimut kain putih.
Tapi aku tak ingin membuka cadar yang menutupi wajahnya. Aku merasa itu tidak
penting. Yang kuherankan, mengapa seisi rumahku meratapinya tanpa memberitahuku
tentang apa yang telah terjadi?
Ini
benar-benar hari yang aneh. Semua diam dan mengunci mulut dalam keegoan mereka
masing-masing. Tak ada seorang pun yang dapat kuajak untuk bicara. Mereka
terbawa emosi dan larut dalam kesedihan
yang dalam.
Aku tak
ingin melayani kesedihan mereka. Kesedihan ini, hanyalah sebatas kenangan yang
menempel di pikiran mereka saja. Tak akan lama, mereka mungkin sudah melupakannya.
Dan kesedihan itu kuanggap tidak akan merubah keadaan. Sekalipun yang
keluar adalah air mata darah meratapi kematian yang sudah mati pasti.
Sebaiknya aku beranjak saja dari sini. Melupakan apa yang telah terjadi. Waktu-waktu begini, biasanya aku mengunjungi kebun di belakang rumahku. Baik aku ke sana saja, meninjau tanaman yang baru kusemai sebulan yang lalu. Aku pun tidak suka menyesali hal-hal yang telah terjadi jika itu memang sudah menjadi kehendak sang Pencipta. Untuk apa disesali dan diratapi. Semua kesedihan tak akan dapat merubah keadaan menjadi seperti sedia kala. Hanya doa pada-Nya yang pantas dilakukan, agar Tuhan selalu memberi rahmat-Nya.
Bersambung ...