Senin, 06 Januari 2020


Cuplikan Novellet.

GELAPNYA JALAN SURAU KAMI

Kesadaranku timbul tenggelam. Di rumahku sedang ada perhelatan kecil. Orang-orang berdatangan ke rumahku tapi entah siapa yang mengundang mereka. Mereka duduk dan berdiri sesukanya tanpa ada penyambutan. Tidak ada kursi-kursi di dalam tenda agar mereka bisa menikmati perhelatan. Yang ada hanya wajah-wajah duka dan penuh kecemasan. Sebagian mereka bahkan berpakaian serba hitam. 

Dalam kegelisahanku, aku lupa sesuatu. Di mana istriku? Di mana anak-anakku? Di mana keluargaku semuanya? Aku mencari mereka. Kulewati kerumunan orang-orang yang berada di sana tanpa sedikit pun ingin menyapa dan bertanya kepada mereka. Selain itu, aku juga merasa risih pada orang-orang yang menjadi tamu tak diundang ini yang terus berdatangan di rumahku.

Kudapati istri dan anak-anakku sedang duduk bersimpuh saling berhadapan di lantai ruang tamu rumahku. Mereka meratapi sesosok jasad mati yang terbaring di tengah-tengah mereka. Kucoba mendekatinya, tubuh kurus berselimut kain putih. Tapi aku tak ingin membuka cadar yang menutupi wajahnya. Aku merasa itu tidak penting. Yang kuherankan, mengapa seisi rumahku meratapinya tanpa memberitahuku tentang apa yang telah terjadi?

Ini benar-benar hari yang aneh.  Semua diam dan mengunci mulut dalam keegoan mereka masing-masing. Tak ada seorang pun yang dapat kuajak untuk bicara. Mereka terbawa emosi dan  larut dalam kesedihan yang dalam. 

Aku tak ingin melayani kesedihan mereka. Kesedihan ini, hanyalah sebatas kenangan yang menempel di pikiran mereka saja. Tak akan lama, mereka mungkin sudah melupakannya.  Dan kesedihan itu kuanggap tidak akan merubah keadaan.  Sekalipun yang keluar adalah air mata darah meratapi kematian yang sudah mati pasti. 

     Sebaiknya aku beranjak saja dari sini. Melupakan apa yang telah terjadi. Waktu-waktu begini, biasanya aku mengunjungi kebun di belakang rumahku. Baik aku ke sana saja, meninjau tanaman yang baru kusemai sebulan yang lalu. Aku pun tidak suka menyesali hal-hal yang telah terjadi jika itu memang sudah menjadi kehendak sang Pencipta. Untuk apa disesali dan diratapi. Semua kesedihan tak akan dapat merubah keadaan menjadi seperti sedia kala. Hanya doa pada-Nya yang pantas dilakukan, agar Tuhan selalu memberi rahmat-Nya.

Bersambung ...

Kumpulan Sajak  "Para Pelayat"

Persemayaman Terakhir

Semayamkan jasadku dalam semalam
sebelum dimulai arak-arakan
mengantarkan jenazahku esok pagi

takkan lama…
duduklah bertanggang sambil menyeruput
secangkir kopi hitam

jangan kau tinggalkan daku sendiri
karena aku masih didekatmu

tak perlu diratapi
tak perlu disayangi
bisik bisik doamu cukup jadi penawar bagiku

uu.hamita, (20 Desember 2017)


Kumpulan Sajak "Para Pelayat"

                    JIKA AKU MATI

Jika aku mati
tabuhkan beduk tiga kali di dalam negeri
Jangan ditangisi

‘Daun gugur tak pernah membenci angin’

Jika aku mati
Semayamkan jasadku dalam sekejap 
Jangan ditangisi

karena rindu sedang menyapa

Jika aku mati
Usap keningku dengan lembut jemarimu 
Jangan ditangisi

Titik-titik air melati akan menggugurkan rindumu

Jika aku mati
baluri aku dengan secercah kasihmu
Jangan ditangisi

Esok pagi kan kau lihat senyumku menyapamu

Jika aku mati
antarkan ragaku dengan pundakmu
Jangan ditangisi

Teguhkan jiwamu mengusung kepergianku

Karena duniamu bukan lagi duniaku.

                                uu.hamita, (19 Juni 2018)


HIKAYAT NURUDDIN AL - BASYIR
(Sebuah Dongeng Pembaruan, oleh Hamdani)

Pada zaman dahulu hiduplah seorang pemuda, bernama Nuruddin, Tersebutlah pula bahwa Nuruddin adalah putra Tuanku Ahmad Basyir. Nuruddin adalah sosok pemberani. Di negeri Teluk Mensada, ia terkenal sangat handal bermain senjata. Ia tak gentar bertarung menaklukkan lanun-lanun besar yang mengganas di laut Malakari dengan tangannya sendiri. Tidak hanya piawai dalam bertempur, Nuruddin juga adalah seorang pemuda yang sangat tampan dan cerdas. Pantaslah banyak sahabat  dan orang - orang senegerinya sangat mengaguminya.

Walhasil, ia pun bertemu dengan seorang dara jelita dari negeri seberang, lalu menikah dengannya. Pertemuan pertama mereka yang sangat singkat terjadi saat kunjungan keluarga Siti Noor Halizah ke Teluk Mensada. Ternyata Siti Noor Halizah memiliki silsilah keluarga dengan Nuruddin. Mereka terpisah lama sejak dulunya karena sebagian para tetua mereka memilih berhijrah untuk membangun sebuah perkampungan baru di negeri seberang. Sebuah pulau yang indah memesona bernama Pulau Todak.

Mendengar akan ketangguhan Nuruddin, Paduka Datuk Laksamana Mahmud Tsani, yang memimpin Negeri Teluk Mensada kala itu, tertawan hatinya. Ia merasa takjub mendengar kabar yang berkembang tentang Nuruddin. Ia sangat merasa bangga saat mengetahui bahwa anak negerinya memiliki kemampuan yang tak tertandingi. Lalu diperintahkannya seorang pengawal istana untuk menjemput Nuruddin menghadap kepadanya,

Sesampainya Nuruddin di istana, Paduka Datuk Laksamana pun menyampaikan akan keharuan dirinya kepadanya. Mereka bercengkerama sungguh mesra, seumpama ayah dengan anandanya. Kelembutan budi bahasa dan kesantunan akhlak terpancar pula dari sikap dan perbuatan mereka berdua. Saling menghargai dan menghormati, menjadi cermin bagi kerukunan dan kedamaian rakyat Negeri Teluk Mensada.

 Setelah berbincang-bincang barang sebentar, Paduka Datuk Laksamana kemudian menyampaikan keinginan dan hajat beliau. Ia meminta  Nuruddin membantunya menumpas lanun-lanun yang masih bersembunyi di pulau seberang. Tempat itu pun diyakini sebagai lumbung penyimpanan harta hasil curian para lanun.

Sebagai seorang yang berjiwa ksatria, pantang baginya menyanggah perintah Yang Mulia Datuk Laksamana, Nuruddin akhirnya menerima tawaran itu. Tak lama kemudian, ia pun diangkat menjadi Panglima Utama yang akan memimpin peperangan di pulau seberang.

(Bersambung … )

Entri yang Diunggulkan

  1.    BANGKU-BANGKU TUA 2.    PIKUN 3.    GAMANG 4.    LUKISAN USANG 5.    KEMARAU 6.    LOA MEI 7.    BENTENG NEGERI 8.    ...