1. BANGKU-BANGKU
TUA
2. PIKUN
3. GAMANG
4. LUKISAN
USANG
5. KEMARAU
6. LOA MEI
7. BENTENG NEGERI
8. DOA MALAMKU
9. BERITA KEMATIAN
10.
MENYINGKAP
KEMATIAN
12.
SAJAK
PARA PELAYAT
13.
JANJI
14.
LIMIT
15.
MENYESALKU
1. BANGKU-BANGKU
TUA
Karya : Hamdani
KTA : 0263/PERRUAS-SASTRA/2019
Ketika bangku-bangku tua
mulai bicara pada meja yang
menggumam seribu bah'sa
Ternyata suaranya lebih lengking
memecahkan keheningan ruang
yang ditinggal penghuninya
Ketika bangku-bangku tua
mulai bicara pada meja yang
menggumam seribu bah'sa
Jeritnya merobohkan dinding-dinding
tirani di negeri pendosa
Negeri yang hilang rasa
hilang periksa
Ah, kan kusalahkan pada siapa
jika bangku-bangku tua bicara
sejujurnya
Tiada yang dapat menutup
kesaksiannya
Dia merekam bicara tentangmu
yang beraroma pendusta
Hingga tercabik dinding-dinding
kedap suara
Menyesak menembus tulang-tulang
beton
yang menyangga padanya.
Kan kusalahkan pada siapa nasib
malang
yang menimpa negeriku?
Tipu daya meraja lela
menelan gunung menelan lautan
menelan tanah, air jadi bencana
Wahai, bangku-bangku tua
Katakan pada sahabatmu
yang tak lagi mau bicara
Mengapa ayah mereka
menenggakkan ramuan akar tuba
pada anak-anak tak berdosa
Membunuh jiwa-jiwa kering
kehilangan asa?
Mengapa kau diam?
Membisu seribu bah'sa?
Ah, sudahlah
Untuk apa kusalahkan pada nasib
malang yang menimpamu?
Kau hanya bilah-bilah kering yang
mati rasa
Yang dibuang bila tak berguna lagi
Gaungmu menggugurkan dedaunan
tapi tak menggugurkan kesombongan
Bicaramu meruntuhkan gunung ganang
Tapi tak meruntuhkan keangkuhan
Sudahlah, untuk apa aku bicara
padamu?
Yang takkan pernah mengerti
dalam dunia yang juga tak pernah perduli.
2. PIKUN
Karya : Hamdani
0263/PERRUAS-SASTRA/2019
Si Tua bangka mengeja pada kata tiada makna
ditutur patah sepatah haram,
dilulur decak keliling pinggang,
digiur teguk sekecup tuba,
dienyam pahit si malakama,
diseok lenggang sepatah arang,
diliut lekang mata bertenggang,
diguyur angin sebisa duri,
dikota kata semati angan,
diumbuk rasa diri binasa,
diurut lurut kering kerontang,
diputus asa bergadai nyawa,
Si Tua bangka mengeja
pada lupa.
Kata tiada makna.
3. GAMANG
Karya : Hamdani
0263/PERRUAS-SASTRA/2019
Jejak luka bernanah tergores ilalang
Pedih perih mencabik – cabik
Sekalipun halilintar menggelepar
Menghenyak benak
Semakin ku tak perduli.
Angin yang mendesau tak semiris
cumbu badai yang pernah berlalu
di belantara rindu
Ah,
Tak lagi kau dengar semilir angin
menghembus desahnya pada rumpun
bambu di lereng keharuan
Titik-titik hujan telah jatuh satu persatu
Di alur sungai kenistaan itu
Saat ini,
Purnama tak lagi hadir dalam warna sejati
Pucat pasi di balik awan yang bercentang
Putih hitam abu-abu
Aku yang terseok dalam kelip binarmu
Perlahan tenggelam dan penuh lebam
Terhunus kata yang berperi
Sebab
Libramu telah memecahkan kendi kepolosanku
Hilang manja, hilangkan harapan dan kebanggaanku
Diamku, memberanguskan rindumu padaku
Aku.., lebur jadi debu.
4. LUKISAN
USANG
Karya : Hamdani
KTA : 0263/PERRUAS-SASTRA/2019
Kucoretkan segala asa
pada kanvas yang menggelantung
di dinding kamar ini
Mau hitam, putih, atau jingga
Serahlah padaku.
Jangan tanya ini itu
Sekalipun laut yang kutoreh berwarna hitam
Atau langit jingga yang menyala
Apa kau perduli?
Asaku kian terbelenggu warna kematian
Hingga bingkainya sekalipun
tak mengerti apa mauku
Lihatlah luka yang menyesak
di liang-liang hampa,
menyusup hingga tulang belulang
Perihnya sungguh tak terperi
Lalu kutuang ilusi
dalam cawan berisi darah
yang bersatu dalam raguku
Hasratku terlanjur mengering
Mengental dalam warna yang kalut
Sudahlah, jangan kau tanya lagi
Ada waktu pastiku kembali pada-Nya.
5. KEMARAU
Hamdani
0263/PERRUAS-SASTRA/2019
Kulihat awan becermin di muka laut
dalam warna yang merah saga
Dia menyunggingkan senyum
pada daun yang kering kehausan.
Lalu mencibirlah tanah gersang
pada hujan yang turun gerimis
Dia berkata, sekejap saja tawamu itu?
Takkan mampu menawar lukaku
Kabut yang mengental pada
dinding-dinding langit,
telah memerangkap
jiwaku dan jiwamu.
kita terlalu egois kala merayu
pada musim yang takkan pernah berubah
hingga menghentikan langkah kita berjalan ke hadapan.
Menyuruk pada kelam yang membutakan.
Kapankah turun hujan kedamaian yang sejati itu?
Yang mengguyur dalam sukmaku yang lama hampa.
Sementara kerinduanku semakin terampas oleh musim
Kabutnya menebal menyesak dalam nafasku.
Tuhan, kirimkan aku berita-mu
Pada horizon yang membentang di segara kasih-mu
Agar kutahu kemarau ini pasti berlalu.
6. LOA MEI
(sajak
untuk sebuah seremonial)
Loa
mei,
Gadis
kecil yang tertatih
Di
deru dan debu jalanan negeriku
Terdiam
dalam asa menatap langit
Yang
menyengat kulit
Tampaknya
tah kapan kan turun hujan
Selain
gerah yang masih menyelimuti
Dinding
dan sudut negeriku yang bertuan
Hatinya
masih hampa dan bibir kelu mau bicara
Loa
mei
Kau
gadis kecil berkulit putih
Yang
turun ke bumi
Dalam
pelukan cinta yang membara
Kini
merempat di jalanan
Terbuang,
terlantar, terabaikan
Seribu
mata tak peduli memandangmu
Seribu
mata hanya berkisah tentangmu
Seribu
mata hanya diam dan membisu
Dan
seribu mata juga bicara cinta padamu.
Loa
mei
Ada
kabar burung apakah kau dengar?
Ada
kabar angin apakah kau dengar?
Ada
kabar online tentangmu juga,
Apakah
kau dengar?
Oh,
maaf.
Aku
lupa kau tak punya apa-apa
Aku
lupa kau bukan siapa-siapa
Aku
lupa, tentang duniamu yang di sana
Loa
mei,
Berjalanlah
engkau hingga ke ujung duniamu
Walau
lelah pantang sekali engkau menyerah
Walaupun
resah jangan pernah engkau gelisah
Walaupun
perih jangan pula engkau bersedih
Teruslah
maju dan engkau harus tetap melangkah
Loa
mei..,maafkan aku.
Kami
yang duduk dalam gegap gempita
Bersorak
sorai dalam yel-yel keabadian
Sedang
di luar sana kau berteriak dalam kepedihan
Melambung
menguap dalam terik dan kemarau
Hingga
kecil suaramu tak kedengaran lagi
Sebentar,
kami harus menyelesaikan sedikit lagi
Bicara
tentang kemanusiaan
Hingga
malam larut nanti
Pasti
kami kan lupa engkau masih merempat di tengah jalan.
Hamdani/
karimun, 2 mei 2020
7.
BENTENG NEGERI
Salah satu tulisanku yang masuk dalam buku
Antologi Puisi berjudul "GURU" Sebuah pencapaian REKOR MURI INDONESIA
2018 untuk kategori Buku "Penulis Puisi Terbanyak" yang diluncurkan
dalam acara GERAKAN AKBAR 1000 GURU ASEAN MENULIS PUISI.
BENTENG NEGERI
Kepadamu Tuan,
Kami adalah pucuk-pucuk bakau
yang berjajar di ribuan pulau
Hijaunya meneroka sampai ke ujung tanjung
menyeruak sampai ke dalam teluk
Kami adalah pucuk-pucuk bakau
yang memagar tanah daratan
Menahan hempasan ombak,
menahan terjangan badai
Walau gugur, kami berpantang mati
Tapi, lambaian tangan kami tak pernah kau
pahami
Semilir angin adalah salam kami,
yang tak pernah kau perduli
Riuh ombak adalah rintihan kami,
yang tak pernah kau mengerti
Kepadamu Tuan,
Mengapa kikis pantai Nusamu?
Negeri yang kini hilang gempitanya
Terkubur semangat kami dalam serakah jiwamu
Keangkuhanmu yang menikam jantung kami
Sangat perih dari dijajah di dunia nyata
Oh.., Tuan
Bangunlah dari lenamu yang panjang
Kibarkan semangat jiwamu di tanah persada
Jangan lagi surut langkah mudamu
Bangkit bersatu, membela bumi Pertiwi.
HAMDANI, 24 September 2018
8. Doa Malamku
Waktu kubenamkan wajah
Diceceran air mata
Menyeruak dalam keinsyafan
Jemari menangkap seribu noda
bibir membiru tangan tegang kaku
Kumohon seribu ampun dari-Mu.
Waktu menjerit
nubariku di sudut malam
Menangisku dalam iman.
Semujudku tiada henti
Mencari keampunan-Mu.
Tuhan, kuraih kasih sayang-Mu.
Dalam setiap doa malamku
9.
Berita
Kematian
Telah luruh
dedaunan
layu kering
ditiup angin
tergeletak dalam
tanah gersang
terbalut debu
kusam menghitam.
Terhempas
bebatuan kerikil tajam
Satu persatu
berderai jadi butiran hampa.
Jangan lagi kau
perduli
Walaupun nadimu tak lagi berdetak.
Tahukah engkau?
Daun yang luruh
itu...
Telah hanyut
tergerus kebencianmu
Hingga jejaknya
pun
Tak lagi dapat kau temui.
Dia kini telah mati.
Maafkan, aku Canduku
Canduku, sang Bayi kecil yang merengek
Tiap malam hendak menetek pada puting
kosong
melompong.
Ibumu terlelap menganga
dalam keletihan
dan diam
tak
berdaya
lelah merintangmu pada jalan pagi dan petang.
Ayahmu kini tak lagi membelikan susu bubuk
atas beratnya
kehidupan ini
Walau kau kehausan dalam tangisan
menangis dalam lolongan panjang
Lirih suaramu merintih
Nak, kusuguhkan
seteguk tuba
Tuk menghentikan
tangisanmu?
Apa yang hendak dikata?
Kau yang menebus duka dan dosa dalam candu kami
Sampai bertemu Nak, kita
berhitung di hari pembalasan.
Jika
aku mati
tabuhkan beduk tiga kali di dalam negeri
Jangan
ditangisi
‘Daun
gugur tak pernah membenci angin’
Jika
aku mati
Semayamkan jasadku dalam sekejap
Jangan
ditangisi
karena
rindu sedang menyapa
Jika
aku mati
Usap keningku dengan lembut jemarimu
Jangan
ditangisi
Titik-titik
air melati akan menggugurkan rindumu
Jika
aku mati
baluri aku dengan secercah kasihmu
Jangan
ditangisi
Esok
pagi kan kau lihat senyumku menyapamu
Jika
aku mati
antarkan ragaku dengan pundakmu
Jangan ditangisi
Teguhkan jiwamu mengusung kepergianku
Karena
duniamu bukan lagi duniaku.
uu.hamita,
(19 Juni 2018)
Jika aku mati
tabuhkan beduk tiga kali di dalam negeri
Jangan ditangisi
‘Daun gugur tak pernah membenci angin’
Jika aku mati
Semayamkan jasadku dalam sekejap
Jangan ditangisi
karena rindu sedang menyapa
Jika aku mati
Usap keningku dengan lembut jemarimu
Jangan ditangisi
Titik-titik air melati akan menggugurkan rindumu
Jika aku mati
baluri aku dengan secercah kasihmu
Jangan ditangisi
Esok pagi kan kau lihat senyumku menyapamu
Jika aku mati
antarkan ragaku dengan pundakmu
Jangan ditangisi
Teguhkan jiwamu mengusung kepergianku
Karena duniamu bukan lagi duniaku.
uu.hamita,
(19 Juni 2018)
13. JANJI
Aku tak pernah merasa berjanji pada langit
Tentang catatan hitam kumal di tangan ini
Ada noktah noda yang menempel
pada dinding malam dan siangku
Tentang sumpah serapah yang melumat
daging yang membangkai jadi santapan
Tentang hasrat menggelora yang terpanggang
oleh nafsu birahi
Lalu mersik di pancang-pancang sulbi
Tentang waktu yang terbuang sia-sia
pada lorong-lorong senja yang menganga
Tentang harta yang bertumpuk dan mengeras
Jadi batu api yang membakar rohul jasadi
Tapi entah mengapa
Tanganku ringan berayun menggapai
lembah di antara dua jalan yang bersimpang?
Entah ku tak paham jika pendakian adalah
keabadian
Liku dan temaram ternyata adalah jalan syurga
Mengapa melulu lembah hitam kelam
yang menuntun tangan-tangan ke neraka?
Sumpah demi sang Penguasa
yang menundukkan siang dan malam
Aku bukan pecundang.
uu.hamita, (14 Desember 2017)
14. LIMIT
Tik.., tik.., tik..,
Desember setengah malam,
Bekas kepedulian orang-orang
menanti dia tiba.
Meninggalkan detik antara
yang takkan kembali.
Tik.., tik.., tik..,
Sebentar sesaat bertepuk tangan
dalam sorak sorai yang berderai
Mercon dan petasan menggagai rangut
Kerlap kerlip bagai gemintang
lalu cahyanya mati.
Entah apa yang ditunggu?
Entah apa yang dinanti?
Entah hidup entah mati?
Tik.., tik.., tik..,
Hanya detik detik yang jengah menunggu
Atau kau dan aku, pergi tak akan kembali lagi.
#catatanakhirtahun
Karimun,
31/12/2019
15.
MENYESALKU
Menyesalku
meminta
kerinduan
pada yang fana.
Hingga
menutup pandanganku
pada
kebenaran cinta sejati dari-Nya.
Memasang
tembok yang teramat tinggi,
demi
memisahkan rasa cinta-Nya padaku.
Aku,
yang tolol tak memahami keabadian.
Terus
berlari mengejar cinta buta dalam kepayahan.
Tertatih
bagai seekor serigala yang terluka dan kecewa pada dunia. Termenung bagaikan
pungguk merindukan bulan.
Terombang
ambing di lautan bagaikan perahu yang patah kemudi.
Tuhan,
dalam kepayahan
izinkan
kuraih buih kasih-Mu
Hingga
capai dermaga tempatku berpaut.
Tuhan,
beri aku maaf
Hingga
kikis salah dan dosaku pada-Mu.
Karimun, 01/10/2020
16. BERITA KEMATIAN
Telah luruh
dedaunan
layu kering
ditiup angin
tergeletak dalam
tanah gersang
dan terbalut debu
Terhempas
bebatuan kerikil tajam
Satu persatu
berderai jadi butiran hampa.
Daun yang luruh,
Engkau hanyut dalam musim
yang silih berganti
Sampai hilang tak berjejak
Kau pun tak pernah dikenang lagi
Selamanya engkau telah mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar