Senin, 06 Januari 2020


HIKAYAT NURUDDIN AL - BASYIR
(Sebuah Dongeng Pembaruan, oleh Hamdani)

Pada zaman dahulu hiduplah seorang pemuda, bernama Nuruddin, Tersebutlah pula bahwa Nuruddin adalah putra Tuanku Ahmad Basyir. Nuruddin adalah sosok pemberani. Di negeri Teluk Mensada, ia terkenal sangat handal bermain senjata. Ia tak gentar bertarung menaklukkan lanun-lanun besar yang mengganas di laut Malakari dengan tangannya sendiri. Tidak hanya piawai dalam bertempur, Nuruddin juga adalah seorang pemuda yang sangat tampan dan cerdas. Pantaslah banyak sahabat  dan orang - orang senegerinya sangat mengaguminya.

Walhasil, ia pun bertemu dengan seorang dara jelita dari negeri seberang, lalu menikah dengannya. Pertemuan pertama mereka yang sangat singkat terjadi saat kunjungan keluarga Siti Noor Halizah ke Teluk Mensada. Ternyata Siti Noor Halizah memiliki silsilah keluarga dengan Nuruddin. Mereka terpisah lama sejak dulunya karena sebagian para tetua mereka memilih berhijrah untuk membangun sebuah perkampungan baru di negeri seberang. Sebuah pulau yang indah memesona bernama Pulau Todak.

Mendengar akan ketangguhan Nuruddin, Paduka Datuk Laksamana Mahmud Tsani, yang memimpin Negeri Teluk Mensada kala itu, tertawan hatinya. Ia merasa takjub mendengar kabar yang berkembang tentang Nuruddin. Ia sangat merasa bangga saat mengetahui bahwa anak negerinya memiliki kemampuan yang tak tertandingi. Lalu diperintahkannya seorang pengawal istana untuk menjemput Nuruddin menghadap kepadanya,

Sesampainya Nuruddin di istana, Paduka Datuk Laksamana pun menyampaikan akan keharuan dirinya kepadanya. Mereka bercengkerama sungguh mesra, seumpama ayah dengan anandanya. Kelembutan budi bahasa dan kesantunan akhlak terpancar pula dari sikap dan perbuatan mereka berdua. Saling menghargai dan menghormati, menjadi cermin bagi kerukunan dan kedamaian rakyat Negeri Teluk Mensada.

 Setelah berbincang-bincang barang sebentar, Paduka Datuk Laksamana kemudian menyampaikan keinginan dan hajat beliau. Ia meminta  Nuruddin membantunya menumpas lanun-lanun yang masih bersembunyi di pulau seberang. Tempat itu pun diyakini sebagai lumbung penyimpanan harta hasil curian para lanun.

Sebagai seorang yang berjiwa ksatria, pantang baginya menyanggah perintah Yang Mulia Datuk Laksamana, Nuruddin akhirnya menerima tawaran itu. Tak lama kemudian, ia pun diangkat menjadi Panglima Utama yang akan memimpin peperangan di pulau seberang.

(Bersambung … )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

  1.    BANGKU-BANGKU TUA 2.    PIKUN 3.    GAMANG 4.    LUKISAN USANG 5.    KEMARAU 6.    LOA MEI 7.    BENTENG NEGERI 8.    ...