HIKAYAT NURUDDIN AL -
BASYIR
(Sebuah Dongeng Pembaruan, oleh Hamdani)
Pada
zaman dahulu hiduplah seorang pemuda, bernama Nuruddin, Tersebutlah pula bahwa Nuruddin adalah putra
Tuanku Ahmad Basyir. Nuruddin adalah sosok pemberani. Di negeri Teluk Mensada,
ia terkenal sangat handal bermain senjata. Ia tak gentar bertarung menaklukkan lanun-lanun
besar yang mengganas di laut Malakari dengan tangannya sendiri. Tidak hanya piawai
dalam bertempur, Nuruddin juga adalah seorang pemuda yang sangat tampan dan
cerdas. Pantaslah banyak sahabat dan
orang - orang senegerinya sangat mengaguminya.
Walhasil, ia pun
bertemu dengan seorang dara jelita dari negeri seberang, lalu menikah
dengannya. Pertemuan pertama mereka yang sangat singkat terjadi saat kunjungan
keluarga Siti Noor Halizah ke Teluk Mensada. Ternyata Siti Noor Halizah
memiliki silsilah keluarga dengan Nuruddin. Mereka terpisah lama sejak dulunya
karena sebagian para tetua mereka memilih berhijrah untuk membangun sebuah
perkampungan baru di negeri seberang. Sebuah pulau yang indah memesona bernama
Pulau Todak.
Mendengar
akan ketangguhan Nuruddin, Paduka Datuk Laksamana Mahmud Tsani, yang memimpin
Negeri Teluk Mensada kala itu, tertawan hatinya. Ia merasa takjub mendengar kabar
yang berkembang tentang Nuruddin. Ia sangat merasa bangga saat mengetahui bahwa
anak negerinya memiliki kemampuan yang tak tertandingi. Lalu diperintahkannya seorang
pengawal istana untuk menjemput Nuruddin menghadap kepadanya,
Sesampainya
Nuruddin di istana, Paduka Datuk Laksamana pun menyampaikan akan keharuan
dirinya kepadanya. Mereka bercengkerama sungguh mesra, seumpama ayah dengan
anandanya. Kelembutan budi bahasa dan kesantunan akhlak terpancar pula dari
sikap dan perbuatan mereka berdua. Saling menghargai dan menghormati, menjadi
cermin bagi kerukunan dan kedamaian rakyat Negeri Teluk Mensada.
Setelah berbincang-bincang barang sebentar,
Paduka Datuk Laksamana kemudian menyampaikan keinginan dan hajat beliau. Ia meminta
Nuruddin membantunya menumpas
lanun-lanun yang masih bersembunyi di pulau seberang. Tempat itu pun diyakini sebagai
lumbung penyimpanan harta hasil curian para lanun.
Sebagai
seorang yang berjiwa ksatria, pantang baginya menyanggah perintah Yang Mulia
Datuk Laksamana, Nuruddin akhirnya menerima tawaran itu. Tak lama kemudian, ia
pun diangkat menjadi Panglima Utama yang akan memimpin peperangan di pulau
seberang.
(Bersambung … )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar